Bahkan Google Pun Menghargaimu

Hari ini, ketika saya mencari informasi di Google, saya heran mengapa google memasang foto yang aneh, biasanya google memasangnya hanya pada hari-hari khusus. Maka saya pun mengarahkan mouse ke tulisan google, maka keluarlah tulisan “Memperingati hari Guru Nasional 2011″. Saya baru ingat jika hari ini adalah hari khusus untuk guru Se-Indonesia.

Melalui tulisan ini saya pun turut serta mengucapkan penghargaan dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada para guru yang tetap setia memberikan ilmunya tanpa pamrih. Mengajar tak kenal lelah, dan , mengabdi tanpa tanda jasa. Walau terkadang jasa yang telah diberikan tak sebanding dengan penghasilan yang didapatkan. Ini cerita nyata dari kakak saya sendiri yang saat ini pun berprofesi sebagai guru.

Lanjutkan Baca..

Tiba Juga Waktunya

Sudah dua hari mantengin dashboard, akhirnya bisa nulis juga. ckckckck..parah banget. Padahal yang mau diulis bukanlah sesuatu yang bermutu. Sampe’ ada yang bilang saya hebat bisa melototin dashboard blog sampe’ dua hari.

Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan semua rutinitas belajar dengan baik. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik juga buat saya untuk menapaki hari-hari selanjutnya dengan status bukan mahasiswa lagi.

Padahal rasanya baru beberapa hari yang lalu saya daftar kuliah, masuk kuliah dengan wajah lugu dan culun dikarenakan gak tau apa-apa. Belajar dengan tenang dan duduk dengan manis. Denegrin dosen ngajar. Eh sekarang tinggal nunggu hari H yang gak sampai 2 minggu lagi untuk mengikuti peristiwa sakralnya mahasiswa alias Wisuda. Kok Rasanya waktu berputar begitu cepat.

Kemarin Idul Adha, saya pulang ngasih kabar kemereka. Rasanya seneng banget lihat ekspresi wajah mereka sebagai wujud syukur kalau mereka dapat menyelesaikan kewajiban mereka memberi bekal ilmu kepada anaknya, walau sampai sarjana. Mengingat mereka berdua SD pun tidak selesai disebabkan masalah ekonomi.

Ibu adalah orang yang paling banyak tanya teknis acara wisuda saya, pake’ baju apa, trus gimana nanti pas acara, ngapai aja. Acaranya dimana.? Begitu juga dengan Bapak, tapi beliau lebih banyak diam, paling hanya nanya masalah biaya saja. Ibu juga menunjukkan baju yang akan dia pakai, baru selesai dibuat dengan jahitan sendiri (kebetulan ibu bisa menjahit). Katanya  cocok gak dipakai di wisuda saya.  Bagi saya pertanyaan ini wajar, mengingat mereka jarang mengikuti dan melihat kegiatan seperti ini. Tahun kemarin sempat hadir diwisuda kakak saya. Saya pun menjawab, teknisnya sama saja dengan wisuda kakak, pakai baju apapun ndak masalah bagi saya. Yang penting adalah ibu dan bapak bisa datang. Itu sudah cukup. Mohon doanya saja biar semuanya lancar. Rasanya pengen nangis ketika melihat ibu senyum.

Makasih untuk semua sahabat yang sudah mendoakan, mensupport dan menyemangati saya. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang sudah diberikan.

 

 

Salam


Kopdaran bareng Pakdhe

Tuhan…biarkanlah sekuncup mawar harapan mekar dan abadi, demi merahmati tamanku dengan senyum dan harumnya yang membawa perasaanku pada kebahagiaan. Hembuskan angin-Mu untuk mengantarkan harum mawar bagi sahabat-sahabatku, kaum muslim yang terkasih, agar musim semi cinta kepada-Mu muncul dan terjaga, meluruhkan badai dan bencana yang tegak bersama bendera waktu.

Sejengkal demi sejengkal kebencian melangkah, kesombongan berdiri pongah, tamak mengembara bersandingkan nafsu dan bisikan iblis. Orang-orang tak bisa mematikan diri sendiri sebelum datangnya maut, karena jiwa dimabuk simfoni iblis hingga mereka tidak bisa mendedah kisa tentang dia yang bisa duduk di atas awan. (Taufiqurrahman Al-Azizy;5)

Quote di atas saya ambil dari buku yang diberi pakdhe cholik tadi malam selesai kopdar. Saya bingung mo cerita apa lagi tentang kopdar bersama blogger kawakan, semuanya sudah diborong sama pakdhe.

Lanjutkan Baca..