Aku dan Sepeda


Kisah ini terjadi ketika saya masih duduk di kelas 4 SD, mungkin sekitar 12 tahun yang lalu. Dikeluarga saya, saya adalah orang yang termasuk lambat dalam mengayu kendaraan beroda dua yang sering disebut sepeda. Kedua kakak saya yang perempuan bisa naek sepeda saat mereka dikelas 1 SD, begitu juga dengan adik-adik saya, sementara saya hingga duduk di bangku kelas 4 SD belum bisa naek sepeda, sehingga jika pergi kemana-mana saya cuma bisa duduk diboncengan, entah itu bersama ayah, ibu, kakak maupun teman-teman.
Di kampung saya Waktu itu jangan berharaSepeda Jengkip belajar sepeda menggunakan sepeda mini layaknya anak sekarang belajar menaiki sepeda. Karena saat itu sepeda mini sangatlah jarang. Maka kami semua belajar bersepeda menggunakan sepeda milik orang dewasa, saya ndak tau nama resminya, tapi kami memanggilnya sepeda jengki. Saya ingat merk sepedanya. Phoenix.

Maka jika kita pernah melihat film Laskar Pelangi, dan melihat sosok lintang. Maka seperti itulah gaya anak2 menaiki sepeda, tidak ada yang duduk pada sadelnya. Dikelas 4 SD itulah saya didorong oleh beberapa teman saya untuk belajar menaiki sepeda, mulanya saya ragu, karena saya sudah beberapa kali belajar tapi tidak berhasil. tapi teman-teman saya terus memberi semangat. Akhirnya sayapun belajar sepeda dengan cara dipegangi bagian belakang rame-rame oleh sahabat saya. Satu kali..dua kali saya coba dihari yang sama, belum berhasil juga, hingga menjelang maghrib baru saya mampu menaiki sepeda itu tanpa pegangan teman-teman saya. Saya sangat bahagia saat itu, berarti saya tidak bergantung pada orang lain. Tapi baru beberapa meter keseimbangan itu terjaga, tiba-tiba kesseimbangan itu hilang dan bruk..sepeda ambruk , saya pun  jatuh dan masuk ke parit di pinggir jalan.😦

Esok harinya saya tidak melanjutkan belajar naik sepeda karena harus pergi ke tempat nenek. Sesampainya di tempat nenek saya melihat ada sepeda yang ukurannya lebih kecil, kami menyebutnya sepeda mini, karena ukurannya yang lebih kecil dari sepeda diatas. Disana saya melanjutkan belajar sepeda hingga saya mahir.

Bagi saya sepeda merupakan bagian dari kehidupan masa kecil saya, setidaknya hingga saya menamatkan pendidikan SMP saya. Sepedalah yang mengantar saya pergi mengaji, sekolah, ke sawah dan jalan-jalan sore.

Hingga saat ini sepeda itu masih ada, hanya saja tidak terurus lagi, saya hanya bisa memandangi dia teronggok didapur rumah karena kurangnya perawatan. apalagi semenjak Sepeda Motor bertaburan di Desa saya, termasuk dirumah saya, orang malas pergi menggunakan sepeda. Paling ibu yang masih menggunakan sepeda itu, jika hendak ke Warung atau menagih angsuran pakaian ke tetangga-tetangga dikampung.

tapi saat ini saya merindukan kembali saat-saat itu, dimana kami saling berlomba mengayuh sepeda bersama teman-teman. Persis seperti Need for Speed tapi kali ini Versi Sepeda, bermain sepeda kala hujan turun, maka kami pun akan ngedrift di tanah licin dengan mengandalkan sandal dikaki sebagai remnya. Bahkan ketika saya menulis tulisan ini masih bisa kurasakan bagaimana rasanya waktu itu. Tertawa bersama teman, ketika ada yang terjatuh, dada terantuk stang sepeda, atau kaki tergilas jari-jari sepeda.

Saat ini saya hanya bisa memndangi keriangan anak tetangga di rumah kost yang belajar bermain sepeda di halaman rumahnya, sambil membayangkan mungkin seperti itulah keceriaan saya waktu itu dengan segala tingkah polanya.😀

Cerita ini dipersembahkan untuk kang Zipoer untuk meramaikan Hajatannya tentang pengalaman mengesankan dalam sepeda

Moga dapat meramaikan Hajatan Beliau.

49 thoughts on “Aku dan Sepeda

  1. Sayapun bersepeda ria sampai STM mas,lumayan ngonthel tiap hari. Sepedapun second hand padahal pengin sepeda yg imut he he he
    Selamat mengikuti kontest,semoga berjaya.Salam hangat dari Surabaya

  2. Masa kecil memang kenangan yg sulit utk dilupakan. Dan salah satu kenangan itu adalah..bersepeda bersama temen2 sebaya. Aku pun sekarang ini jadi ikut terbawa kenangan masa2 indah itu..
    Moga sukses dgn kontes sepedanya yaa..
    Salam hangat dan damai selalu..

  3. Jadi inget .. pertama kali bisa naik sepeda .. terus turun dari jalanan yg terjal .. waktu itu belum tahu apa namanya rem jadi .. dengan suksesnya saya mendarat di parit😆😆

  4. Ayo semangat lagi nge-blog, apalagi jalan jalan pagi udah ketemu konten berharga seperti konten sobat yang ini, sobat… saya undang untuk follow-followan, semoga undangan ini bersambut baik

  5. hehehehehee…
    sejak membaca artikelnya, terbersit kenangan di masa SMP dulu naik sepeda bareng2, abis itu naik boat deh,perahu air yang kita tumpangi setiap hari menuju sekolah SMPN3 Tanjung Haloban.
    sepeda-sepeda…
    tapi sampe sekarang aku masih sering pake sepeda kok,=D menghemat biaya dan tenaga, heehehhe..
    itung2 sambil mencegah global warming.

    ayo jaga kelestarian sepeda,jangan samapi sepeda yang sudah menjadi sarana dari jaman dahulu kala termusnahkan hanya karena penemuan teknologi2 canggih yang belum tentu 100% menguntungkan.

  6. wah….mirip ma sepeda saya waktu SMP. asyik ya naik sepeda. prnh dulu remnya rusak, menegangkan kalau jalannya menurun. ngeremnya pake sepatu. hehe

  7. Pingback: 59 Peserta Bersepeda Masuk Bui « Batavusqu

  8. Pingback: Para Jawara Sepeda yang Hadir dalam Hamberqu « CITRO MADURA

  9. Pingback: Ini dia 59 Kontestan Sepeda dalam Pesta Kemeriahan Bersepeda di Humberqu « Rachmadwidodo's Weblog

  10. bunda hanya sempat merasakan naik sepeda 2 thn saja, setelah itu harus dilungsurkan utk adik yg baru belajar naik sepeda, berbagi gitulah mas dgn adik.
    terakhir naik sepeda, kapan ya? kayaknya dah lama banget, thn 1990an gitu kali ya.
    salam.
    ————————————————
    Harus dirasain lagi bunda, hitung-hitung Nostalgialah😀

  11. Pingback: Peduli Sahabat « Batavusqu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s