Ini Bukan tentang Keberanian, Tapi Disiplin


Panjang banget ya judulnya. Bingung mo buat judul apaan.😀
Mungkin kita pernah dengar Gerakan Disiplin Nasional (GDN) yang pernah digaungkan oleh pemerintah. Harapannya agar masyarakat Indonesia bisa melaksanakannya yang akhirnya dapat membentuk masyarakat yang teratur. Untuk lebih jelasnya tentang disiplin ini, ada blog yang mengupasnya khusus untuk anda. Lihat disini.. Ada bebrapa postingan yang membahas tentang GDN

Beberapa malam ini saya pulang kerja sedikit malam, sekitar pukul setengah 11 Malam. Lumayan malamlah untuk ukuran saya, biasanya jalanan sedikit sepi. Biasanya saya melewati 2 titik trafic light (lampu lalu lintas). Menurut aturan yang saya ketahui, jika lampu merah menyala maka kita harus berhenti dan memberikan hak kepada pengguna jalan lain yang lampunya dah berwarna hijau untuk jalan. Tapi saya sering melihat ada saja kendaraan (biasanya sepeda motor)yang coba untuk mengambil hak pengguna lain dengan cara menerobos lampu merah tersebut. Saya gk tau apa yang ada di benak orang itu, apakah dia tidak paham peraturan, tidak memperhatikan lampu lalu lintas, atau memang dia memiliki “nyawa cadangan”. Sehingga dengan tenangnya menerobos lampu lalu lintas.

Mungkin sebagian jika ditanya akan menjawab, lha wong jalannya kosong kok, ngapain coba berhenti tapi gak ada yang ditunggu. Kan mendingan lewat saja, biar cepat sampai tujuan. Memang sekilas jawaban itu ada benarnya, memang jika jam menunjukkan pukul 10 malam ke atas jalanan akan sepi, kecuali malam Minggu. Tapi sadarkah kita bahwa sesungguhnya perbuatan itu bisa berakibat fatal bagi orang lain. Hal ini pernah terjadi pada teman saya. Karena melihat lampu hijau masih berpihak padanya maka ia pun mengendarai kendaraannya dengan sedikit kencang, tapi tanpa disadarinya ada kendaraan lain yang seharusnya berhenti melakukan tindakan “selonong boy”. Dan akibatnya hmm..teman saya masuk rumah sakit karena mengalami patah tulang pada kakinya. Memang ada sedikit kesalahan pada teman saya, karena tak begitu memperhatikan kondisi jalan. tapi seandainya kita bisa sedikit menunggu dan berhenti sejenak serta memberikan hak orang lain, maka hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.

Semoga hal kecil ini menjadi pelajaran buat kita semua, tak ada salahnya untuk menunggu. Apalagi untuk masyarakat Medan, tak ada lampu lalu lintas yang menyala warna merahnya melebihi 180 Detik. Jadi gak ada salahnya kan memberikan hak orang lain. Karena ini menyangkut jiwa orang lain. Jika kita sudah merasa memiliki dua nyawa, toh tak ada salahnya untuk tetap mengikuti aturan yang berlaku. Jika kita merasa tak ada yang melihat (misal :pihak berwajib). Sesungguhnya kita tetap ada yang melihat. yaitu Allah dan malaikat yang selalu mencatat perbuatan kita.

Artikel ini ditujukan untuk mendukung kembali Gerakan Disiplin Nasional.
Mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan saat ini juga.

sumber gambar : http://www.goodexperience.com

32 thoughts on “Ini Bukan tentang Keberanian, Tapi Disiplin

  1. Hmm.. Coba lampu merah kayak gitu di pasang di Indonesia, bukannya mentaati tapi bingung ngliatnya hehe….
    ———————————-
    Iya mbak, kira2 ada berapa ya simpangnya.

  2. Pingback: Resonansi Jiwa: “Duka DiPerjalanan” « Mas Edy On The Blog | Merangkai Harapan Mencapai Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s