Resonansi Jiwa: “Duka Di Perjalanan”


Dari kejauhan lampu lalu lintas diperempatan itu masih menyala hijau, seorang ria sebut saja Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tidak mau terlambat apalagi perempatan cukup padat, sehingga lampu merah menyala cukup lama.Lampu berganti kuning hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. 3 Meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala, jack bimbang haruskah ia berhenti atau terus jalan.
“Ahh..aku tidak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak” pikir Jack sambil terus melaju.

tetapi tiba-tiba ia mendengar suara peluit, dan diseberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack pun menepikan kendaraan sambil mengumpat dalam hati, dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu, dan tak lain adalah Bobby teman mainnya semasa SMA dulu. Kemudian Jack memutar keluar sambil membuka kedua lengannya sambil berkata “Hai bob, senang ketemu kamu lagi”.
Hai jack” jawab bobby tanpa senyum,

“waduh sepertinya saya kena tilang lagi neh. Saya memang agak buru-buru Bob, maklum hari ini istri saya ulang tahun. Dia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya, tentu saya tidak boleh terlambat pulang kerumah donk istri saya sudah menunggu dirumah masalahnya”Jack mencoba berkilah.

Hmmm..sebenarnya saya mengerti, tapi sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah dipersimpangan ini. Sekarang berikan SIM mu Jack”, jawab Bobby

Kemudian ia menuliskan sesuatu dibuku tilangnya, melihat sikap Bobby yang dingin Jack masuk ke mobil dan memandangi wajah Bobby dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca mobil itu sedikit cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata bobby kembali ke posnya. Jack mengambil surat
tilang yang diselipkan bobby di sela kaca jendela. tapi ternyata SIMnya dikembalikan bersama dengan sebuah nota tulisan tangan bobby yang isinya adalah:

“Halo jack, tahukah kamu Aku dulu memiliki anak perempuan, sayang dia telah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama tiga bulan, begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada, kami terus berusaha dan berharap agar tuhan mengkaruniai kami seorang anak agar bisa kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu, betapa sulitnya Jack. Begitu juga kali ini. Maafkan
aku teman, doakan agar permohonan kami terkabul. berhati-hatilah dijalan. Salam Bobby.

Setelah membacanya Jack terhenyak dan langusng mencari Bobby, tetapi ia telah meninggalkan pos. Dan sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

————————————————————————————————

Sahabat, Tidak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain, Bisa jadi tawa kita tidak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Saya sering melihathal seperti ini di Medan, dan saya pun pernah menuliskannya disini.Tulisan ini juga apresiasi saya kepada Salah satu Produsen sepeda motor yang selalu mengingatkan masyarakat disetia diujung iklannya dengan ucapan “Jangan Lupa Pakai Helm”. 😀 hehehehe… Terlihat sepele memang, tapi sungguh ini sangat berguna jika kita mematuhinya.

*Tulisan ini saya tulis ulang dari mendengarkan MP3 Makna Hidup

Salam

36 thoughts on “Resonansi Jiwa: “Duka Di Perjalanan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s