Untukmu sang Bidadari

roses flower

Untukmu bidadariku,

Engkau adalah wanita kedua yang hadir untukku setelah ibunda yang begitu kucintai. Kamu dan aku adalah manusia yang tak sempurna, dan aku berharap dengan ketaksempurnaan itulah kita dapat saling melengkapi.

Menikah merupakan impianku dan impianmu, tapi bagiku bertemu denganmu adalah sebuah kebahagiaan. Aku tak pernah menyangka engkaulah yang akan menjadi pelengkap sebagian dari jiwaku, engkaulah tulang rusukku. Semoga pertemuan ini adalah sebuah hadiah dari sang pencipta untuk kita berdua.

Kelak kita akan saling mengisi kebahagiaan dan kesedihan kita dengan begitu banyak warna. Kita akan mendidik dan menjaga anak-anak kita menjadi orang-orang yang dapat bermanfaat untuk bumi yang semakin menua. Kita akan belajar akan makna hidup dan kehidupan. Kita akan saling menjaga saat jauh dan saling menggenggam tangan saat kita dekat.

Padamu harapan yang tinggi akan sebuah rumah tangga yang ideal. Jujur memasuki duniamu adalah hal yang paling aku khawatirkan, aku masih belum tau bagaimana membujukmu saat engkau menangis, aku juga bukan tipe lelaki romantis yang pandai merangkai sesuatu menjadi kegembiraan dan kebahagiaan. Tapi yakinlah dengan adanya dirimu disisiku aku berjanji untuk menjadi orang yang selalu membahagiakanmu dengan segenap jiwa dan ragaku.

Semoga titik-titik harapan dan impian yang pernah ada dapat kita rangkai bersama menjadi sebuah garis yang dapat menghubungkan dan bermanfaat bagi bumi dan isinya. Aamiin.

Percayalah, semua akan indah pada waktunya.

Sumber gambar : disini

Bulan Mulia

http://4.bp.blogspot.com/-35y143tSskQ/UeqlPe9LkfI/AAAAAAAAAm4/o_p4kBU8wsk/s1600/RamadhanMubarak.jpegKehadiranmu sungguh berbeda dibandingkan bulan lainnya, semua ummat Islam begitu bersemangat untuk menyambut dan menjalani hari-harimu. Walau mungkin tak semuanya begitu. Kadang kala ada beberapa yang begitu bersemangat diawal-awal tapi redup pada akhirnya.

Kehadiranmu bagai magnet yang mampu menarik orang-orang untuk datang ke Masjid, surau, langgar atau mushollah. Kami saling berdesakan hingga terasa sulit bernafas untuk melaksanakan sholat Isya dan tarawih, padahal kami tak lakukan itu di bulan-bulan yang lain.

Kami menjadi manusia yang begitu taat saat engkau datang, lihatlah para artis yang dahulu tampil seronok tapi kini seperti terkena syndrom menutup aurat walau kadang terkesan tak ikhlas karena hanya rambut belakang yang tertutup sedangkan bagian rambut yang warna-warni masih tetap terbuka.

Wahai bulan yang mulia, ajarkanlah kepada kami untuk bisa menjaga semangat ini tetap hidup dan berkobar sampai engkau datang lagi. Ajarkan kepada kami untuk menjaga kebaikan yang kami dapatkan untuk 11 bulan kemudian. Doa kupanjatkan untuk sang pemilik langit dan bumi agar senantiasa membimbing kami menjadi insan-insan terbaik selepas engkau pergi.

Semoga kami tak menjadi ummat yang ramai di awal tapi sunyi di penghujung.

Semoga Ramadhan kali ini lebih baik. Happy Ramadhan.

Rindu saat-saat itu..

Sudah lama rasanya jemari ini tidak menyentuh rumah maya ini. Begitu melihat kembali rumah ini, saat-saat indah itu pun kembali memenuhi kalbu sehingga muncul kerinduan untuk kembali menggoreskan sebait dua bait kalimat. Ntah itu bermanfaat atau tidak yang pasti rasa itu terus mendorong kerinduan ini untuk tetap menuliskan bait-bait kalimat ini.

Ingin rasanya menangis, saat melihat rumah ini penuh dengan komentar-komentar yang tidak baik (spam). Tapi hati ini lebih pedih saat melihat kalimat-kalimat sahabat yang menyempatkan diri untuk membaca artikel dan meninggalkan kalimat baik. Maaf jika kalian masih terabaikan.

Tuhan, tolong biarkan jemari ini untuk terus dapat menulis, tumbuhkan terus kerinduan akan saat-saat dimana bathin ini merasa bahagia saat melihat tulisan, komentar dan persahabatan nan indah ini. Biarkan pikiran liar ini menemukan ide-ide untuk dapat ditulis dan dipahatkan didinding-dinding rumah ini.

Tuhan, jangan biarkan aku terus terpuruk oleh kemalasan dan kebodohan diri sendiri. biarkan dan izinkanlah aku kembali untuk menulis bait-bait kalimat ini. Ingin rasanya aku berbagi kisah hidup di rumah ini, bersama sahabat-sahabat terbaikku.

Tuhan, sampaikan kerinduan dan terima kasihku untuk sahabat-sahabat yang telah mengunjungi rumah ini, siapapun mereka, sehatkan mereka, murahkan rejekinya dan perbaiki kehidupannya. Agar kami bisa terus berbagi, menginspirasi dan meninggalkan jejak-jejak sejarah hidup yang ada disekitar kami. Aamiin.

 

Surat untuk Ibunda

source pic:cara-cara-cepat.blogspot.com
source pic:cara-cara-cepat.blogspot.com

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Bunda, Puji Syukur kita kepada Allah , Semoga Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita. Sholawat kepada Rasulullah, yang mengajari kita untuk senantiasa bersyukur dan saling mencintai.

Bunda, surat ini kutujukan untuk mengungkapkan betapa daku sangat mencintaimu setelah rasa cintaku pada Allah, Rasul dan agama ini. Bunda, engkau adalah wanita pertama yang mencintaiku dengan sepenuh hati. Wanita yang mencintai diri ini disaat suka dan duka. Bundalah orang yang selalu mendoakan diri ini disetiap sujud-sujud yang bunda kerjakan setiap hari.

Bunda, kini anakmu sudah beranjak dewasa, ijinkan lah anakmu untuk mulai menemukan cinta pada wanita lain. Wanita yang akan menggenapkan separuh agama ini. Wanita yang kelak juga akan menjadi Ibunda buat anak-anak kami nanti. Wanita yang juga akan mencintai keluarganya sama seperti bunda mencintaiku dan keluarga ini. Wanita yang juga mencintai Allah, Rasul dan agamanya. Yang akan mengajarkan anak-anak kami bagaimana menjalani hidup, mencintai Agamanya dan keluarganya pula.

Bunda, maafkan anakmu ini yang tak bisa dan selamanya tak kan bisa membalas cinta bunda. Maaf jika selama ini belum bisa membahagiakan bunda. Tapi ijinkanlah bila tiba saatnya nanti harus kulabuhkan cinta ini pada wanita lain, engkau tetap mencintaiku seperti hari-hari sebelumnya. Semoga kelak bunda dan wanita pilihan anakmu bisa saling bercerita bagaimana cara mencintai keluarganya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dari anak yang selalu mencintaimu.

Selamat Jalan Ramadhan

foto3.phpIni adalah hari terakhir di bulan penuh kemuliaan,Sedih rasanya melewatkan bulan ini, karena merasa diri masih belum maksimal menjalankan ibadah-ibadah terbaik di bulan ini. Kadang masih disibukkan oleh pekerjaan yang menuju deadline sehingga kadang lupa bahwa deadline dari Allah lah yang paling penting. Deadline yang bila telah tiba masanya tak dapat diundur atau dimajukan barang sedetik pun. Continue reading

Rumah Pengabdian

Rumah Pengabdianku

[Bagan Batu, Pukul 23:11], Hari ini libur sekolah karena hari minggu, disusul dengan esok harinya, karena ada tahun baru Imlek. Hal-hal seperti ini kumanfaatkan untuk mengisi waktu dengan pergi ke rumah kakakku di kota Bagan Batu, salah satu kota kecamatan yang lumayan ramai di Perbatasan antara Propinsi Sumut dan Riau. Disini koneksi Internet lumayan bagus, jadi aku gunakan untuk melakukan hal-hal yang menurutku perlu kulakukan, termasuk menulis blogku tercinta.

Kali ini aku ingin menceritakan rumah pengabdianku sebagai guru, gambar diatas adalah sekolah dimana aku mengajar, sebuah sekolah standar seperti kebanyakan sekolah lainnya. Sekolah ini sudah dibangun permanen oleh perusahaan dimana aku mengajar. Ya, sekolah itu merupakan sekolah milik perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sebagai wujud tanggung jawab terhadap pendidikan anak para karyawannya.

Lanjutkan baca

Returns

[Teras Masjid, Pukul 20.10, kecepatan rata-rata koneksi 4,6 KB/s]. Hari ini entah bisikan dari siapa yang membuat aku begitu bersemangat menstarter kuda besiku dan meluncur menuju lokasi tower (BTS) idaman yang berjarak sekitar kurang lebih 1 km dari tempat aku tinggal sekarang untuk kembali membuka blog ini dan menuliskan kata demi kata. Karena hanya dibawah tower inilah koneksi internet bisa “diandalkan”.

Setelah dipikir-pikir mungkin kerinduanku pada Emakku (Nakjadimande) dan Sobatku (Ramudeng aka Lina NDuk Ram) setelah saling berbalas komentar di facebook. Mungkin juga karena buku karya Mas Gola Gong (Menggenggam Dunia, Bukuku Hatiku) yang ku download tadi siang. Entahlah, tapi hari ini aku begitu ingin untuk menuliskan kata di blog ini.

Saat ini aku berada disebuah daerah yang lumayan jauh dari kota. Di sini koneksi internet tidaklah semudah waktu masih tinggal di Medan. Jangankan ditempatku tinggal, di Ibukota kabupaten pun aku masih kesulitan mencari tempat untuk melakukan koneksi internet. maklum kabupaten tempat aku tinggal baru berumur 4 tahun. Jadi mungkin para pengambil kebijakan daerah masih memikirkan bagaimana membangun hal-hal yang jauh lebih penting ketimbang internet.

Lanjutkan baca